Terkadang ummi jadi sempat iri atau minder tatkala membaca beberapa artikel dari blog sahabat, artikel tentang pendidikan anak,atau yang lainnya. Misalnya nih, artikel yang menceritakan tentang anaknya X yang usianya Y bulan atau tahun udah bisa melakukan Z atau saran untuk bayi/balita yang usianya X dilakukan rangsangan Y dan sebagainya. Iri dan minder, ya iyalah, kadang ummi tidak melakukan seperti yang disebutkan di artikel itu jadi kadang ada perasaan minder juga, jangan-jangan adek nggak bisa optimal, kadang minder juga kok adek belum bisa melakukan ini ya, padahal teman-teman lainnya udah bisa(ya menurut artikel2 itu sih). Wajar nggak sih? Hmm, sampai pernah deh ummi minder banget akhirnya seharian browsing cara mengoptimalkan potensi anak dan akhirnya…? Ternyata ada beberapa hal yang ummi temukan dan sadari bahwa walaupun ummi belum pernah membaca artikel tentang merangsang potensi anak atau apalah namanya ummi ternyata sudah melakukan hal yang mirip dan kadang adek juga sudah bisa melakukan hal-hal yang disebutkan tanpa ummi rangsang terlebih dahulu. Kok bisa ya…?
Ummi jadi ingat sebuah artikel yang ummi tulis dan ini mengutip kata-kata Abi bahwa jangan takut menghadapi sesuatu karena jika sesuatu telah ditakdirkan terjadi/ada pada kita, Allah pasti telah membekali kita untuk menghadapi hal itu dan itulah yang dinamakan ilham. Setiap manusia pasti punya ilham. Misalnya nih, ummi belum baca sih kalau usia X bulan anak dirangsang dengan warna yang beragam, eh tapi ternyata waktu adek berusia x bulan itu juga ummi dah memenuhi kamar adek dengan gambar warna-warni, sampai-sampai ummi buat bunga-bungaan yang digantung di seutas tali rafia trus direntang di atas kasur adek,agar adek bisa meraihnya. Hal lainnya masih ada lagi dan kadang ummi surprise juga loh ternyata ilham manusia sangat kuat. Seorang bayi yang masih suci juga sdh memiliki ilham apalagi seorang ibu mengenai pendidikan anaknya. Sehingga bila kita perhatikan tingkah laku anak yang masih suci itu relatif sama satu dengan lainnya dan setiap anak rata-rata memiliki kecerdasan yang hampir sama ketika masih kecil. Tapi, bukan berarti juga ibu jadi nggak mau belajar n membaca artikel-artikel tentang mengembangkan potensi anak lagi loh….
Dulu juga ummi sempat minder karena ada berita seorang bayi sudah bisa membaca dan berhitung. subhanallah, keren banget nih, ummi minder lagi karena adek belum bisa baca dan tulis sampai sekarang hehehehe. Terkadang ummi curhat juga ke Abi tentang adek, tentang perasaan minder ummi dan jawaban Abi sangat menentramkan hati ummi. Kata Abi, mendidik anak ibarat mendirikan bangunan. Di usia hingga 7 tahun kita masih membuka lahan dan meletakkan dasar pondasi yang kuat. Dalam masa ini bisa saja kita mulai mendirikan bangunan, tapi jika pondasinya belum kuat bangunan itu akan roboh dan tidak bertahan lama. Apaan sih maksudnya ya? Maksudnya nih, belum saatnya dalam usia tersebut anak diajari yang berat-berat seperti membaca dan menulis dengan serius. Bisa aja anak diajari dan pasti cepat terserap tapi hati-hati juga karena kalau pondasinya belum kuat bisa roboh. Nah maksudnya membuka lahan dan mendirikan pondasi yang kuat adalah mengajaknya bermain. Hah, bermain, kok bisa ya? Eit, ini sesuai dgn hadist rasul kan bahwa sampai usia 7 tahun bebaskanlah bermain seperti penjelasan Allamah AI-Majlisi ra. dalam kitab “Tanbihul Bihar” yang menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan pemeliharaan dan pendidikan anak-anak sebagai berikut :
1.Tujuh tahun pertama, sebaiknya anak dibebaskan bermain. Tujuh tahun kedua, anak
seharusnya diajari membaca dan menulis. Tujuh tahun ketiga, anak seharusnya diajari tentang hak dan batil. Rasulullah saaw. bersabda, “Anak adalah majikan selama tujuh tahun (tahap pertama), hamba selama tujuh tahun berikutnya (tahap kedua), dan menjadi menteri selama tujuh tahun berikutnya (tahap ketiga). Bila ia pada usia 21 tahun menunjukkan sifat yang baik, maka ia adalah anak yang baik. Kalau tidak, tinggalkanlah ia, karena (bila kamu masih meliharanya pada usia 21 tahun) berarti kamu telah melemparkan tanggung jawabmu kepada Allah”.
Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata “Biarkan anak-anakmu bermain sampai mencapai usia tujuh tahun (tahapan pertama), dan biarkan ia bersamamu (untuk belajar dan sebagainya) selama tujuh tahun berikutnya (tahap kedua) bila ia berhasil (dengan baik), kalau tidak maka tidak ada kebaikan padanya.”
2.Pada usia enam tahun anak laki-laki tidak boleh tidur satu selimut dengan anak perempuan, usia tujuh tahun tidak boleh mencium wanita, dan usia sepuluh tahun tempat tidurnya harus dipisah dari tempat tidur anak perempuan.
3.Mencapai usia enam tahun, anak-anak perempuan tidak boleh dicium orang yang bukan muhrim dan tidak boleh duduk di pangkuan orang bukan muhrim.
4.Dalam usia dini ajarilah anak-anak tentang hadits dan tanamkan rasa cinta kepada Ahlil Bait Nabi saaw., serta ajarilah mereka membaca AI-Quran dengan baik.
Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata, “Bergegaslah kamu dalam mengajarkan hadits kepada anak-anakmu sebelum mereka didekati kaum murjiah (kelompok yang sesat).”
5.Didiklah dan ajaklah mereka dalam perdagangan.
6.Ajarilah mereka berenang dan memanah.
7.Jangan membebani anak-anak dengan dengan tugas-tugas yang sulit.
8.Jika berjanji dengan mereka, tepatilah.
9.Ciumlah anak-anak anda, karena Allah menjanjikan pahala.
10.Bermainlah dengan mereka, seakan-akan anda masih anak-anak.
11.Jangan melakukan diskriminasi di antara mereka, kecuali karena.ilmu dan kebaikannya.
12.Cucilah wajah dan tangan-tangan mereka sebelum tidur malam.
13.Jika anda memberi hadiah untuk keluarga, utamakan anak-anak wanita dari pada anak-anak laki-laki.
14.Gembirakan dan ceriakan anak-anak anda
Wuih, panjang banget ya penjelasannya. Tapi, kalau kita baca artikel2 tentang pendidikan anak jaman sekarang pastinya minder ya, ya iyalah, bayi jaman sekarang sudah diajarkan membaca n yg terkenal ya metode glenn domann tuh. Sedangkan menurut Rasul, membaca dan menulis diajarkan setelah usia 7 tahun. nah, bisa-bisa adek nggak diterima masuk SD nih, secara sekarang masuk SD kan syaratnya mesti bisa baca, tulis, berhitung, bahkan sampai ada yg harus bisa bahasa Inggris, weleh2…gimana ya? Apa ada yang salah? Seandainya ada mesin waktu ummi ingin sekali pergi ke jaman Rasul dan melihat bagaimana beliau dan para sahabat mendidik putra-putrinya. Tapi, kalau kita menengok pendidikan tradisional jaman dahulu mungkin malah sejalan dengan hadits di atas. Dulu katanya sih nggak ada sekolah TK atau PAUD seperti jaman sekarang dan aturan masuk SD sangat ketat yaitu harus sudah berusia 7 tahun, nggak boleh kurang sedikitpun. Pendidikan jaman dahulu memang bersikap kaku, tetapi mungkin itu memang baik juga. Pendidikan sekarang lebih demokratis, tapi juga baik. Kalau ummi perhatikan value pendidikan jaman dahulu,orang-orangnya memang biasa dalam hal IQ, tdk seperti sekarang yg canggih2, tapi dalam hal sopan santun, mental dan kejiwaan yang kuat, rasanya pendidikan sekarang kalah jauh. Anak-anak jaman sekarang memang pintar-pintar, tapi dalam hal sopan santun hmm rasanya sulit sekali membandingkan dgn jaman dulu. Mungkin memang jamannya sdh begitu, bahkan sopan santun terhadap guru dan orang tua makin berkurang.
Banyak orang memuji dengan metode baca sejak dini semacam metoda Glenn Domann, tapi ternyata ada juga yang mengkritik metode semacam itu. Kata sebagian orang metode seperti itu membuat anak super yang instan. Memang anak akan jadi super,tapi hati2 karena bersifat instan, maka biarkanlah anak menikmati kebebasannya bermain dan biarkanlah ia belajar dari alam dan lingkungannya secara alami. Seperti sebuah bangunan yg megah dilihat tapi sayang pondasinya belum kuat. Secara jaman sekarang setiap orang tua ingin anaknya cepat pintar dan takut ketinggalan dengan yang lainnya. Coba saja kalau ada anak SD kelas 1 belum bisa baca dan tulis bisa jadi bahan cemoohan kan?
Nah, ummi juga begitu kok, takut adek Kenzie ketinggalan sama teman-temannya. Awalnya sama buat kartu-kartu cerdas sendiri e kartunya malah disobek-sobek dan dihambur-hamburkan sama adek. :D. Akhirnya beli juga kartu-kartu cerdas balita yang kertasnya kuat seperti saran pak Glenn, terus ummi ingin tahu bagaimana reaksi adek melihat kartu-kartu itu. Awalnya ia suka memperhatikan gambarnya dan jika ada gambar yg ia kenal seperti ikan, panda ia menunjukkan pada ummi dan jika ada gambar yg ingin ia ketahui juga tanya ke ummi. Selanjutnya kartu-kartu itu malah jadi mainan adik, jadi peraga ia bernyanyi, dibuat seolah2 pesawat terbang, disusun jadi tempat mengintai ummi, dibuat rumah-rumahan buat boneka tangannya, hehehehehe namanya juga anak kecil.
Antara pro dan kontra pendidikan semacam ini, mungkin sebagai orang tua kita memang harus bijak. Kalau ditanya, ummi juga kadang bingung mana yg terbaik, tapi ummi tetap yakin bahwa apapun yang disampaikan Rasulullah adalah tetap yang terbaik dan mungkin ada sebuah rahasia besar di baliknya kenapa harus 7 tahun(maklum nih bukan orang psikologi). Teman-teman bagaimana?
Madiun, 3 April 2009