Alhamdulillah, hari minggu kemarin kami sekeluarga bersama adik meluangkan waktu untuk rihlah ke Sarangan. Sebenarnya rencananya sudah lama sekali(hmmm kalau gk salah 2 tahun yang lalu, hehehehehe….kasihan deh Ummi) tapi baru terlaksana tanggal 12 kemarin. Telaga Sarangan adalah salah satu obyek wisata terkenal di daerah Magetan, sekitar 45 menit dari kota Madiun. Kabupaten Magetan selain terkenal dengan Telaga Sarangannya, juga terkenal dengan hasil sayur mayur dan kerajinan kulit(sepatu, tas, dll) dan bambu. Telaga Sarangan atau disebut juga Telaga Pasir berada di kaki gunung Lawu, berjarak +/ - 16 Km(arah barat) dari Kota Magetan. Para wisatawan dapat menikmati pemandangan alam yang sejuk dan indah. Telaga Pasir Sarangan mempunyai luas +- 30 Ha dengan kedalaman 28 meter, udara yang sejuk dengan suhu 18-25 C. Di tempat ini beraneka ragam fasilitas hotel, rumah makan, perahu dayung, mainan anak-anak, perahu boat dan kuda yang disediakan bagi para wisatawan dari berbagai daerah maupun wisatawan manca negara.
Saat adzan zuhur berkumandang, kami telah tiba di Telaga Sarangan. Setelah berputar-putar sebentar akhirnya kami memutuskan menginap di Hotel Rejeki. Sebenarnya ada loh hotel yang kamar-kamarnya langsung menyuguhkan view telaga, tapi kata masku, ini hotel bertaraf internasional jadi ya kebayang lah berapa tarifnya, heeheheh(yang murah meriah aja deh). Di hotel Rejeki ini kami menyewa satu villa dengan 2 kamar. Setelah istirahat sebentar dan makan siang kami segera keluar hotel untuk menikmati pemandangan Telaga.
Perjalanan pertama kami hari ini adalah mengelilingi telaga. Hmm kelihatannya sih jauh sekali(luasnya telaganya kan 30 Ha), tapi kalau berkeliling sambil bercerita bersama orang-orang yang kita sayangi kayaknya nggak terasa jauh tuh, :). Pemandangannya, subhanallah, indah sekali. Di tengah perjalanan kami mencoba naik speed boat mengelilingi telaga. Mungkin karena suara speed boat yang bising atau karena baru pertama kali naik, adek kelihatan takut dan menangis. Sampai speed boat menepi adek masih nangis, jatah ummi nih yang harus menenangkan adek. Setelah puas naik speed boat kami menikmati sate kelinci yang terdapat di pinggir telaga. Hampir disepanjang Telaga ini terdapat penjual sate kelinci. Untuk sekedar informasi, harga naik speed boat adalah 35rb untuk sekali putaran, sedangkan sate kelinci 4rb untuk 10 tusuk. Ternyata sate kelinci enak juga loh, tapi adek belum boleh makan jadi adek makan roti dan kerupuk aja :).


Setelah ‘mengisi bensin’ perjalanan kami lanjutkan. Deretan pohon-pohon pinus menjulang tinggi ke angkasa menemani perjalanan kami dan pucuk daunnya melambai-lambai seolah mengucapkan selamat datang. Indah sekali! Telaga Sarangan yang tenang tampak berkilauan ditimpa sinar matahari sore itu. Langit sedikit mendung, tapi tidak mengurangi keindahan telaga yang tersuguhkan. Wajah-wajah ceria tampak terpancarkan dari pengunjung telaga. Di pinggir-pinggir jalan yang kami lewati, para penjual sate dan pemilik speed boat dengan ramah menawarkan barang dan jasanya. Alhamdulillah, di setiap tempat wisata pasti membuka lapangan kerja baru bagi penduduk sekitarnya. Tapi, tetap saja penduduk asli menjadi pedagang kecil-kecilan, sedangkan yang meraup untung besar adalah pemodal besar dan rata-rata bukan penduduk asli.


Saat gelap merayap, hujan turun begitu derasnya. Di situasi yang seperti ini, nggak perlu takut kelaparan karena banyak pedagang makanan keliling yang menawarkan barangnya dari kamar ke kamar hotel. Hawa dingin semakin tajam menusuk tulang dan akhirnya setelah hujan reda kami keluar untuk mencari makan. Telaga tampak dingin dan gelap. Hanya desiran airnya lirih terdengar, tapi kalah oleh hiruk pikuk pedagang yang menggelar tikar di pinggir telaga. Makanan favorit malam itu adalah bakso dan wedang ronde yang hangat.


Esok harinya adalah hari Minggu sehingga pagi-pagi sekali telaga telah ramai dikunjungi wisatawan. Setelah sarapan di restoran kami melanjutkan perjalanan dengan naik ‘bebek kayuh’. Biayanya sama dengan biaya naik speed boat untuk jangka waktu satu jam. Awalnya ummi takut sekali naik bebek ini, maklum nggak bisa berenang nih. Namun, sebagai jaga-jaga kalau bebek tenggelam kami membawa botol Aqua besar :D. Bebek mulai melaju ke tengah dengan pelan, karena adek tidur di pangkuan ummi, jadinya yang mengayuh bebek Abi, hore..!!!! Ternyata naik bebek ini menguji kesabaran kita selain ketangkasan untuk mengendalikannya.


Hari terakhir di Sarangan ummi isi dengan shopping(huuu..dasar wanita), tapi kan ummi shopping untuk para ibu, kakak, adik, dan para keponakan. Selain itu ummi juga membeli wortel yang benar-benar fresh banget karena daunnya masih ada. Banyak sekali barang dagangan yang dijual di telaga, berupa sayuran dan buah, kaos bertajuk telaga Sarangan, dan barang-barang kerajinan. Ummi membeli beberapa buah tas anyaman dari lidi dan pelepah pisang untuk keluarga di Ngawi dan Kediri. Pukul 15.00 kami kembali ke Madiun dengan membawa sejuta kenangan dari Telaga Sarangan. Alhamdulillah, rihlah kali ini semoga membawa berkah dan menjadikan kami semakin bersyukur kepada Allah.
Nih, betapa senangnya adek pergi rihlah ke sarangan…




