Pada dirinya yang mulia sumber teladan bagi setiap manusia yang berusaha menggapai ridha-Nya. Terpesona pada kehidupannya yang tak akan pernah habis dan puas di reguk oleh hamba-hambaNya yang merindukan surga-Nya.Sampai masalah kehidupan pribadinya pun begitu indah mempesona. Ia memberi teladan bagi para suami tentang arti cinta dan kesetiaan pada pasangannya yang sesungguhnya. Cinta itu tak kan pernah lekang oleh ruang dan waktu yang di lewati manusia. Walau sang belahan jiwa tercinta telah keharibaan-Nya. Tapi cinta itu tetap membara di dalam dadanya yang suci dan mulia. Bila ia teringat pada sang kekasihnya tercinta yang telah tiada, bibirnya yang mulia tak kan jemu senantiasa menyebut namanya ,memujinya dan memintakan ampunan untuknya. Adakah para suami istri berhasrat untuk meneladani cinta dan kesetiaannya?
Duhai, para suami,…junjunganmu memberikan contoh yang sangat istimewa dan mulia. Tentang kisah cinta dan kesetiaannya yang telah disaksikan oleh istri-istrinya yang lain dan para sahabatnya yang mulia. Generasi seterusnya dan para ulamapun membukukannya dalam tulisan mereka. Sehingga kisah ini bukanlah dongengan ataupun khayalan semata. Akan tetapi ia nyata adanya dan bagi orang yang ingin menirunya tentu pahala menantinya. Tidakkah hatimu tergerak untuk mewujudkannya?
Rasulmu tercinta yang amat sangat mencintai umatnya adalah sangat menghargai jasa istrinya. Bukti penghargaan beliau ini diwujudkan dengan tidak menikahnya beliau dengan wanita lain ketika Khadijah radiyallahu anha masih hidup mendampinginya. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalan Az-Zuhri dari Urwah radiyallahu anhu bahwa Aisyah radiyallahu anha berkata:
“Nabi Shalallahu alaihi wassalam tidak menikahi wanita lain sampai khadijah wafat”1
Hal ini tidak diperselisihkan di kalangan ahli ilmu dan sejarawan yang menunjukkan betapa agungnya kedudukan khadijah radiyallahu anha dalam hati beliau, tidakkah engkau memikirkannya?
Wahai para istri,…mengapa sangat agung kedudukan Khadijah radiyallahu anha dalam hati beliau shalallahu alaihi wassalam?Karena ia telah memberikan pengorbanan dan jasa yang sangat besar dalam kehidupan suaminya tercinta.Ia tak kenal lelah dan letih begitu setia mendampingi Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dalam berdakwah mengenalkan islam pada masyarakat Quraisy waktu itu, sehingga sang suami mendapat berbagai cobaan, ujian dan kesulitan dalam hidupnya. Ia korbankan harta bendanya untuk sang suami tercinta di jalan dakwahnya, memberikan dukungan, ketenangan dan kasih sayang yang melimpah ruah dalam rumah tangganya.Mendidik anak-anak beliau sehingga menjadi penyejuk mata bagi keduanya.Inilah sosok istri teladan yang patut bagi setiap muslimah untuk mencontohnya dan mempersembahkannya untuk suami tercinta sehingga rumah tangga setiap muslim menjadi kokoh dan kuat bangunannya.Wajarlah bila Allah Azza wa jalla memberikan kabar gembira atas jasa-jasa beliau ini berupa istana di surga.Dari Abu Hurairah radiyallahu anhu bahwa suatu ketika malaikat Jibril mendatangi Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dia berkata :
”Wahai Rasulullah, itu Khadijah telah datang membawa makanan atau minuman. Kalau sudah tiba, sampaikan salam kepadanya dari Allah dan dariku, dan berilah kabar gembira bahwa telah di sediakan untuknya sebuah istana di surga yang terbuat dari intan permata dan di istana tersebut tidak ada keributan maupun keletihan”2
Selain itu atas jasa besar Khadijah radiyallahu anha yang sangat tulus dalam memperjuangkan islam akhirnya beliaupun berhak menyandang gelar sebagai wanita yang terbaik pada umat ini. Dari Ali bin Abu Thalib Radiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shalalahu alaihi wassalam bersabda:
“Wanita mereka yang terbaik adalah Maryam (yakni kepada umat yang didalamnya terdapat Maryam)dan wanita umat ini yang terbaik adalah Khadijah “3
Bukankah Allah sangat cepat hisabnya wahai saudariku,…Tidaklah Dia membalas kebaikan melainkan dengan kebaikan bahkan yang berlipat ganda, dan tidakkah kita ingin meraihnya?
Untuk para suami yang berusaha membahagiakan sang istri tercinta,…walau Khadijah radiyallahu anha telah tiada penghormatan beliau padanya tetap seperti di masa hidupnya . Beliau senantiasa memberikan hadiah pada kerabat dan kawan-kawan istrinya sebagai bukti nyata cinta beliau bukan hanya isapan jempol belaka.Sehingga perbuatan beliau ini membuat Aisyah radiyallahu anha sangat cemburu, Aisyah berkata :
“Aku tidak pernah cemburu kepada satupun diantara istri-istri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam seperti cemburuku kepada Khadijah. Aku tidak melihatnya, akan tetapi Rasulullah sering menyebut namanya. Terkadang beliau menyembelih kambing, lalu memotong-motongnya, kemudian membagi-bagikannya kepada kawan-kawan Khadijah.Pernah aku berkata pada beliau, ‘Seolah-olah tidak ada perempuan lain di dunia ini selain Khadijah?” Beliau menjawab : “Dia dulu begini dan begitu. Dan darinya pula aku punya anak”4
Tentang perkataan Aisyah”…akan tetapi Rasulullah sering sekali menyebut namanya” Ibnu Hajar berkata bahwan dalam riwayat Abdullah al-Bahiyy dari Aisyah sebagaimana di sebutkan dalam Kitab Ath-Thabrani “beliau menyebut nama Khadijah, tidak bosan-bosan memujinya dan beristighfar untuknya”5
Tentang perkataan Rasulullah Shalalahu alaihi wassalam : “Dia dahulu begini dan begitu” Ibnu Hajar berkata bahwa maksudnya dia adalah wanita mulia, cerdas dan sejenisnya.6
Dalam kitab Al-Musnad Imam Ahmad menyebutkan riwayat Masruq dari Aisyah bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda:
“Dia beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, membantuku dengan hartanya ketika orang-orang tidak mau memberi bantuan, dan Allah Subhanahu wa ta’ala memberiku anak darinya ketika Dia tidak memberiku anak dari wanita lain”7.
Imam Nawawi berkata : “Hadits-hadits ini merupakan dalil kesetiaan, penjagaan cinta kasih, dan penghormatan kepada pasangan hidupnya baik semasa hidup maupun setelah mati, serta penghormatan kepada para kenalan teman hidup tersebut”.8.
Jasa istrinya selalu beliau kenang sepanjang masa, sepanjang perjalanan hidupnya. Beliau begitu setia, santun, memiliki pergaulan yang baik dengan istrinya, menjaga kehormatan hidup istrinya baik di saat hidup maupun setelah tiada serta memuliakan kerabat dan teman-temannya.Cintanya tak pernah lekang di makan usia bahkan beliau tetap setia mencintainya ,senantiasa menyebut namanya. Betapa indahnya!
Aisyah berkata bahwa Haalah binti Khuwailid saudara perempuan Khadijah meminta izin bertemu Rasulullah Shalallahu alihi wassalam. Saat itu beliau teringat akan cara minta izinnya Khadijah yaitu cara minta ijin Haalah yang mirip dengan Khadijah. Beliaupun terkenang dan terkejut dengan berkata “ Ya, Allah itu Haalah!” Aisyah yang melihat sikap beliau ini menjadi sangat cemburu. Aku berkata pada beliau :”Untuk apa engkau mengingat-ingat perempuan tua yang sudah tanggal giginya (ompong) dan sudah lama mati, padahal Allah telah memberimu ganti yang lebih baik darinya”9
Tidakkah engkau melihat kecemburuan Aisyah? Cemburu pada wanita yang telah tiada? Rasulullah tidak pernah melupakannya, melupakan gerak-gerik istrinya di masa hidupnya semua terekam indah dalam ingatan beliau. Hingga Aisyahpun tak kuasa menahan kecemburuannya.Adakah yang mau merenungkannya?
Pada Rasulullah suri tauladan yang menawan, semoga dengan membaca kisah cinta dan kesetiaannya hatimu akan tertawan. Alangkah indah dan manisnya hidup dalam cinta dan kesetiaan.Sehingga tenanglah hati para istri mengarungi biduk rumah tangga yang penuh onak dan duri-duri kehidupan. Islamlah solusi kehidupan bagi para pasangan. Di dalamnya akan kita dapati jalan keluar yang kita butuhkan. Wahai para suami,…apalagi yang engkau pikirkan? Jika manusia yang paling mulia di atas bumi ini telah mengajarkanmu arti cinta dan kesetiaan. Tidakkah ingin engkau persembahkan kepada pasangan hidupmu yang telah Allah halalkan? Dan tentu para istripun akan menambah pengabdian dan ketaatan mereka padamu karena inilah yang mereka harapkan! Wallahu ‘alam bish-shawwab.
Artikel ini telah di muraja’ah oleh : Ustadz Khalid Samhudi Lc dan Ustadz Muhammad Elvy Syam Lc.
Sumber Rujukan :
1.Fathul Baari Syarah Shahihul Bukhari jilid 7 Kitabul Manaqib Al-Anshariy, Bab Tazwiijun Nabi Shalallahu alaihi wassalam Khadijata wa fadhliha radiyallahu anha, di tahkik oleh Syaikh Abdullah bin Baaz, daarul Fikr, Lebanon.
Dua hari kemarin kami sekeluarga melakukan perjalanan ke rumah nenek 2K di Ngawi. Ini adalah perjalanan pertama bersana Kenzie dan Kinza menggunakan sepeda motor untuk jarak yang jauh(biasanya gk tega tp gak tahu kemarin pengen aja naik sepeda motor, dah kangen, mas hayuk aja). Dah bawa satu tas gede berisi laptop mas sama baju-baju kami selama 2 hari ditambah satu tas gede lagi berisi laptop titipan pakpoh, hihihi dah kayak mudik aja. Selain silaturahmi ke rumah bapak dan ibu perjalanan kali ini mempunyai misi lain yaitu mencoba jalur alternatif ke rumah ibu(melewati desa-desa terpencil) yang sejak dulu sudah ingin kami lewati tapi belum sukses karena dulu kesasar sampai ke gunung :D
Akhirnya kami menemukan jalur itu dan petualangan dimulai. Diawali dengan jalan beraspal halus yang di kanan kirinya terbentang hamparan sawah yang amat luas. Gunung Lawu berdiri tegak menyapa kami siang itu dan matahari tak begitu terik, membuat nyaman suasana bersama semilir angin yang berhembus lembut. Jalan beraspal ini terus kami lalui yang tak tahu ujungnya dimana kadang ragu untuk terus atau belok ketika tak ada petunjuk, tapi akhirnya sampai juga di rumah.
Sepanjang perjalanan ini banyak sekali bermacam jalan yang kami lalui, ada yang beraspal halus dari awal hingga akhir, ada yang berbatu hingga berguncang tiap waktu, ada yang halus lalu tiba-tiba rusak berat di tengah jalan, setelah itu halus lagi(shock banget nih lg enak2nya meluncur kok tiba2 jalannya berlubang+bergelombang). Saya sendiri sangat menikmati perjalanan ini karena melewati daerah yang belum pernah saya lalui dan itu sangat menyenangkan. Selain itu menurut saya bersepeda motor bersama keluarga melewati daerah pedesaan yang terpencil bisa semakin mengakrabkan keluarga kami karena ada pengalaman baru dan semangat baru(haha kecuali mas yang bonceng kali ya, capek deh, hihihih)
Sepertinya begitu juga perjalanan hidup manusia. Kadang perjalanan hidup terlalui dengan lancar tanpa hambatan apapun, dan itu yang diinginkan oleh setiap manusia. Namun, terkadang Allah begitu sayang dengan hamba-Nya hingga dalam perjalanan hidupnya diberikan-Nya batu-batu terjal sebagai ujian yang akan jadi penambah keimanan atau juga sebagai penebus dosa-dosa kita di masa lalu. Terkadang kehidupan terasa sangat membahagiakan seperti jalan beraspal yang halus dan nyaman, tetapi tiba-tiba di tengah jalan penuh lubang dan gelombang mengguncang, setelah itu tergantung kita menyikapi, begitu shock hingga tak bisa berbuat yang terbaik karena selama ini dalam kenyamanan hingga terpuruk dan perjalanan berakhir buruk, atau mengambil sikap terbaik melewati gelombang hingga insyaAllah jalan yang halus dan nyaman itu bisa kita rasakan lagi.
Mungkin begitu juga perjalanan hidup berumah tangga. Seorang ummahat dulu pernah berkata bahkan waktu 5 tahun pun belum cukup untuk saling mengenal. Dua pribadi yang berbeda, dengan latar belakang berbeda, sifat yang berbeda, pendapat yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, memang butuh banyak sekali kelapangan hati dan toleransi untuk bisa bersama. Seharusnya tak ada lagi egois di dalam hati, karena hidupnya kini bukan untuk dirinya sendiri, ada pasangannya yang memiliki hati dan jiwa sendiri, ada dua keluarga besar yang mungkin sangat berbeda yang perlu untuk dihormati. Pernikahan tak hanya menyatukan dua manusia, tapi juga dua keluarga.
Mungkin awalnya tidak ada cinta, tapi hari demi hari dengan kebersamaan semuanya menjadi indah dan tiba-tiba telah jatuh cinta setiap hari kepada pasangannya. Tapi hidup dengan orang lain, kita harus siap bila disakiti, apalagi bila kita 24 jam dan setiap hari bersamanya. Walaupun mungkin bila orang yang menyakiti kita adalah orang yang paling kita cintai, luka itu begitu dalam atau mungkin akan abadi di dalam hati, di situlah dibutuhkan kelapangan hati kita. Biarlah kita balas rasa sakit hati itu dengan ketulusan cinta dan pengabdian sepenuhnya. Karena pasangan hidup dan keluarga adalah ladang amal yang sangat berharga, sungguh sayang bila kita melewatkannya. Apakah kita akan tetap egois, menonjolkan betapa luka dan dukanya kita, hingga detik demi detik yang berharga jadi sia-sia?
Janganlah membalas sakit hati dengan sakit hati pula. Saya yakin ketika kita sangat menyayangi seseorang, kita tak ingin menyakiti hatinya, kita ingin dia selalu tersenyum bahagia. Tapi kadang takdir itu terjadi dan tak terelak dalam kehidupan kita, menyakiti atau disakiti. Jika kita terlanjur disakiti, biarlah ia jadi penebus dosa kita, dan tak perlu pembalasan karena itu doakanlah orang yang menyakiti kita dengan seribu doa kebaikan untuknya setiap hari.
Balik lagi ke perjalanan kami. Saat pulang ke Madiun kembali kami melewati jalan alternatif ‘barat’ yang menghubungkan Madiun-Ngawi tanpa melalui Maospati. Saat itu telah lewat magrib dan perut dah kenyang(hihihi habis istirahat di sentra ayam panggang Gandu, nyummy…). Sepanjang perjalanan saya kembali terkagum dengan alam, tapi kini dengan bayangan bulan purnama di pematang sawah. Subhanalloh indah sekali ya.
Jadi ingat tulisan di blog lama saya tentang ‘ada sesuatu di luar sana’. Saat itu saya benar-benar jenuh dengan kehidupan yang menjadi rutinitas. Bekerja pagi-kuliah-pulang malam, benar-benar jenuh dan membosankan. Lalu saya berjalan-jalan di sepanjang pohon di pinggir Gasibu, subhanalloh indah sekali jalan itu, hingga saya sadar ada sesuatu di luar sana yang indah dan tiba-tiba kejenuhan itu hilang. Mungkin itulah salah satu alasan kenapa saya ingin sekali naik sepeda motor bersama keluarga dalam perjalanan ini. Saat bersepeda motor, saya merasa ada banyak sekali ’sesuatu di luar sana’ yang indah untuk dinikmati hingga saya bisa melupakan kejenuhan atau kesedihan saya selama ini dan mengembalikan lagi niat hati dalam kehidupan ini bahwa semua yang kita lakukan adalah ibadah, sekecil apapun, pun itu hanya sebuah senyuman untuk suami dan anak-anak. Hingga tak ada lagi kejenuhan dan kesedihan di dalam hati dan menjadikan setiap gerak, nafas, dan aktivitas kehidupan sebagai ibadah.
Setiap kali kita mengalami peristiwa yang membuat kita bersedih atau menderita seringkali kita menutupinya atau menekan perasaan kita agar tidak terlihat lemah atau takut dianggap sebagai orang yang lemah iman sehingga bila ditanya ‘apa kabar? kemudian kita menjawab, ‘baik..!’ Tanpa kita sadari kita menolak penderitaan.
Dilingkungan kita berada bila terjadi peristiwa duka cita, kehilangan orang yang kita cintai biasanya ada ungkapan, ’sudahlah, jangan menangis. Ikhlaskan saja kepergiannya.’ atau ada juga yang mengatakan, ‘kayak bukan orang beriman saja, begitu kok menangis.’ Itulah sebabnya kita menekan perasaan kita, menekan emosi kita, tidak menunjukkan menangis di depan umum agar kita tidak dianggap sebagai orang yang lemah bahkan dianggap sebagai orang yang kufur.
Padahal bila kita memahami lebih dalam setiap duka cita dan penderitaan yang kita alami sesungguhnya banyak manfaatnya dalam hidup kita. Penderitaan dan duka cita yang sering kita alami sesungguhnya bukan kelemahan melainkan sebuah kekuatan yang ada di dalam diri kita. Ada beberapa manfaat di dalam penderitaan yang kita rasakan sebagai kekuatan.
Pertama, Pengalaman duka cita atau yang kita rasakan sebagai menderitaan justru mengajarkan kita pada limpahan kasih sayang Allah Subhanahu Wa ta’ala agar kita semakin dekat dan taat kepadaNya, dengan demikian limpahan kasih sayang Allah akan memenuhi hati kita dan hati kita memancarkan kasih sayangNya untuk semua orang yang disekeliling kita.
Kedua, penderitaan yang kita rasakan menjadikan kebahagiaan kita menjadi sempurna. Kebahagiaan sejati pada dasarnya adalah mengalami kegembiraan dan penderitaan secara seimbang. Hidup menjadi dinamis ketika semuanya datang silih berganti antara kebahagiaan dan penderitaan.
Ketiga, penderitaan membuat kita semakin peka terhadap penderitaan orang lain. Kita menjadi memiliki empati dan menghormati orang lain sebagai hamba Allah yang sama-sama dimuliakan. Kita tidak berani menghina, melecehkan, atau mencemooh orang lain karena kita merasakan betapa pahitnya sebuah penderitaan.
Keempat, ketika hati kita remuk redam, ingin menangis menangislah sesungguhnya apa yang kita rasakan sakitnya, dengan menangis merupakan salah satu cara untuk membersihkan hati kita. Menangislah kepada Allah agar diberikan kesabaran dalam menjalani hidup ini sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
‘Apa yang disisimu akan lenyap dan apa yang disisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. an- Nahl : 96).
* Materi On Air Radio Bahana 101.8 FM jakarta Rabu Jam 6 s.d 7 malam ini.
Apa kabar Kenzie(keluarga besar kami susah melafalkannya, akhirnya panggilannya jadi Arya, padahal nama Kenzie tuh ummi dan abi cari sampai begadang berdua berhari-hari, hihihi, maklum anak pertama gitu). Dia sudah 3 tahun lebih loh dan alhamdulillah banyak sekali perkembangannya. Ummi tak pernah mendikte dan mengajarinya huruf ataupun angka, tapi alhamdulillah dengan bermain dia sudah mengenali beberapa di antaranya. Untuk doa dan hafalan surat pendek tidak ada target khusus atau murojaah karena semuanya dilakukan dengan bermain dan bernyanyi, ternyata lebih efektif dan melekat di kepalanya. Jadinya beberapa doa sederhana dah dihafalkan, dan yang penting pengulangan dan pengulangan saat akan melakukan aktifitas.
Dua minggu yang lalu untuk pertama kalinya saya jauh dari Kenzie. Selama ini dia begitu dekat dengan saya, alhamdulilah, karena memang sejak bayi saya asuh sendiri. Apalagi dengan kehadiran adiknya, Kinza, manjanya tambah gak ketulungan. Semua aktifitas hanya mau dengan saya. Saya masih ingat ketika akan berangkat ke RSB untuk melahirkan KInza, perut rasanya dah mules banget semalaman, Kenzie maunya mandi dengan saya, tak mau dengan Abi atau utinya, akhirnya dengan menahan mules saya mandikan juga.
Waktu adik saya berkunjung ke madiun e tiba-tiba Kenzie mendadak rewel ingin ikut buliknya yang akan pulang ke Kediri dan itulah pertama kalinya ia jauh dari saya(ehhmm pengecualian saat ia masih bayi dan saya masih harus bolak-balik ke Bandung untuk menyelesaikan kuliah ya). Ada rasa kangen dan kesepian dalam hari-hari saya. Awalnya saya takut dia rewel tapi ternyata semuanya bejalan lancar di Kediri, malahan ummi yang rewel karena kangen Kenzie, begitu goda mas, hehehe.
Liburan sekolah yang panjang, saya dan mas menyusul Kenzie di Kediri. Seperti biasa saya tinggal lama Kediri, tak cukup seminggu bahkan kadang sampai berminggu-minggu. Karena mas harus kerja biasanya kami ditinggal dan akan datang hari Rabu dan Jumat. Dulu seingat ummi Kenzie tak begitu rewel saat ditinggal tapi sekarang ada aja alasan untuk menahan mas pergi, apakah itu yang dinamakan kangen. Sepertinya iya, Kenzie sudah merasakan kangen.
Seperti kemarin mas ingin menyenangkan Kenzie, akhirnya kami bertiga pergi jalan-jalan dan berbelanja makanan untuknya. Setelah berputar-putar karena kenzie ingin melihat kereta api, akhirnya kami bertiga duduk-duduk di stasiun. Saat itu mas rencananya akan pergi, tapi Kenzie begitu rewel akhirnya ummi bilang sepertinya adek masih kangen sama mas, akhirnya kepergian mas ditunda, hohoho [padahal yang kangen umminya ya, hihihi]. Akhirnya kami bertiga bercengkerama di stasiun, bercanda, bermain tebak-tebakan bentuk benda sambil melihat kebun pepaya yang terhampar luas, subhanalloh, indah ya.
Saat duduk santai entah mengapa akhirnya saya dan mas jadi bernostalgia tentang kehidupan awal pernikahan kami, benar-benar penuh perjuangan. Saya sungguh tidak pernah membayangkan, setelah menikah, resign dari pekerjaan, hidup berjauhan dari suami, menjalani hari-hari kehamilan saya dengan kuliah dan mengajar di lab komputer hingga malam, merasakan capek, lelah sendirian di sebuah kota yang jarak perjalanannya 10 jam dari suami. Hingga hari Sabtu adalah hari yang saya nantikan dan itupun kadang mas tidak bisa datang setiap minggu, dan kalaupun datang hari Minggunya saya harus berurai air mata melepas kepergiannya di stasiun, hua kayak cerita sinetron aja nih. Tapi itu adalah masa lalu, kami sudah berkumpul kembali, dan ia jadi kenangan yang indah dalam hati kami. [semoga Allah mempersatukan kami di dunia dan akhirat, amiin]
Balik lagi ke Kenzie, mungkin ummi yang harus menjelaskan bahwa itu namanya rasa kangen karena dia belum mengenal kata itu. Rasa kangen itu hal yang wajar dan alami tatkala lama kita tidak bertemu dengan orang yang kita sayangi. Maklumlah di rumah Kenzie dekat dengan abinya bahkan sering tidur di pangkuannya[ummi dah nggak kuat lagi lama-lama mangku sama gendong, lah dah besar je]. Setiap mas hendak pulang dia sudah bertengger di atas sepeda motor sambil memohon untuk ikut, kalau sudah begini kami yang harus sabar membujuknya dengan berbagai cara. Biasanya mas akan bilang kalau Abi nitip Kenzie untuk menjaga ummi sama adiknya. Saat itu sudah berhasilpun setiap hari ia akan menanyakan mas akan pulang atau tidak. Tapi dengan bermain bersama kakak dan teman-temannya di sini ia akan segera melupakan rasa kangennya itu.
Ummi pernah merasakan rasa kangen, kangen banget, sampai berurai air mata selain pada mas. Kangen itu kepada teman-teman dan lingkungan ummi di Bandung dulu. Sungguh ummi sangat bersyukur mengenal mereka, yang telah menorehkan banyak kebaikan dan perubahan pada ummi hingga lebih mengenal indahnya Islam. Mereka yang ucapannya adalah kebaikan dan doa, sikapnya adalah ketulusan sebagai saudara dalam iman dan islam. Saat sakit ada doa terucap, saat sedih ada genggaman tangan dan kekuatan. Kami saling menyayangi, mengingatkan akan kekhilafan, tidak saling menyakiti. Setelah menikah dan pergi meninggalkan mereka, mas-lah yang bisa menggantikan semua teman-teman tersayang ummi. Mungkinkah itu namanya jodoh, kata mas jika kita bertemu jodoh kita, seribu teman kita seolah-olah terwakili oleh satu orang saja yaitu jodoh kita.
Ada kalanya ummi juga merasa kangen berat mungkin seperti yang dialami Kenzie dan hanya ini yang bisa ummi doakan semoga Dia selalu menjaga matanya, hati, pendengaran, penglihatan, jiwa, raga, tubuh, perasaan, dan semua yang ada padanya untuk selalu mengingat Dia dan mengingatku, dan semoga Dia membantuku untuk menjaga kehormatan, mata, hati, penglihatan, pendengaran dan semua yang ada padaku untuknya, semua karena Allah semata.
Jarum jam terus berdetik, berputar melewati angka demi angka 1,2,3 dan seterusnya. Lampu-lampu telah dimatikan dan keheningan malam adalah teman saya kini. Tapi jari jemari terus menari di atas keyboard Toshiba merah hadiah dari lelaki yang saya nanti. Ya, saya sedang menunggu seorang lelaki.
Lelaki ini yang beberapa tahun lalu datang memakai jas dan peci hitam, membawa beberapa keranjang hadiah, dan bersamanya ada kebahagiaan tatkala janji yang berat telah diucapkan. Janji itu setara janji Nabi pada Tuhannya dan janji Bani Israel kepada Allah. Dan janji itu telah mengubah jalan hidup kami, saya terutama, karena dengannya segala karir dan kehidupan akan saya tinggalkan dan menggantinya dengan kehidupan baru yang saya buta terhadapnya tetapi tetap yakin bahwa bersamanya segala kesulitan dan duka lara akan sirna.
Saya masih ingat hari itu ketika saya harus meninggalkan pekerjaan dan orang-orang yang selama ini menemani, mereka tanpa saya sadari telah mengisi sebagian hari dan hati saya. Telah banyak kenangan terukir dan memori telah terpenuhi dengan guratan kenangan. Tidak mudah untuk meninggalkan semua ini lalu sebuah sms saya kirimkan kepadanya, lelaki yang saya cintai, tentang kegalauan dan gundah hati. Dan sms darinya datang, yang kata-katanya masih saya ingat hingga kini, saya terharu dan bersyukur karena ialah penyejuk hati.
Telah banyak hari kami lalui, kadang pertengkaran terjadi, suka dan duka, pahit dan manis dan itulah warna kehidupan. Mungkin saya telah terlalu terikat hati kepadanya hingga takut terluka dan kehilangan. Padahal ajal begitu dekat mengintai, saya dulu atau dia dulu, dan berbagai permasalahan lain yang akan menguji kami, kami akan bertahan atau terpuruk. Siapa yang tahu akan qada dan qadar, siapa yang tahu akan tulisan di Lauhul mahfudz tentang kisah kami dan kami hanya akan bisa berdoa, berusaha, dan tawakal.
Saya masih disini, menunggu seorang lelaki datang, beberapa jam saya menunggu tapi dia belum juga datang, galau dan gundah. Menunggu adalah pekerjaan paling membosankan tapi ada doa untuknya, agar terjaga mata, telinga, hati, badan, perasaan, semuanya yg ada padanya untuk selalu mengingat Allah dan tak lupa mengingat saya juga, yang setia menunggunya.