Bentuk Lain Ibadah
Beberapa teman saya dulu pernah mengeluh betapa sulitnya menjaga ibadah tambahan rutin setelah menikah dibandingkan dulu ketika sebelum menikah. Jika sebelum menikah bisa melaksanakan tahajud tiap malam dan satu juz setiap hari adalah kebiasaan, setelah menikah setengah juz satu hari saja sudah alhamdulillah. Saat itu saya belum menikah dan sempat berpikir kok bisa sih, idealnya kan setelah menikah, dengan adanya ‘teman seperjuangan’ ibadah akan bisa lebih ditingkatkan karena ada yang mengingatkan. Hmm, itu hanya ada di kepala saya dan tidak terucapkan. Karena waktu itu dalam satu diskusi bersama, teman lain yang lebih berpengalaman menghibur teman tersebut dengan mengatakan bahwa kita jangan berkecil hati karena setelah menikah bentuk ibadahnya berbeda. Pernyataan itu tertanam di benak saya dan belum bisa memahaminya secara penuh karena belum mengalaminya sendiri.
Setelah saya menikah, memiliki seorang putra, dan memilih untuk tinggal di rumah barulah saya bisa mengerti perasaan teman saya yang curhat tersebut karena ternyata saya mengalaminya sendiri. Menjadi ibu rumah tangga berarti menjadi pegawai 24 jam. Dulu saat masih bekerja sambil kuliah semuanya bisa diatur dan disiplin. Telah ada jam-jam tertentu yang harus saya tepati. Berangkat kerja pukul 07.30, mulai kerja pukul 08.00, istirahat pukul 12.00-13.00, pulang kerja pukul 17.00 langsung kuliah hingga pukul 21.00, pulang, istirahat, tidur, esoknya kegiatan berulang lagi. Soal makan, cuci, setrika, tidak pernah pusing karena sudah satu paket dengan kost-kostan. Sekarang semuanya tentu harus saya lakukan sendiri karena saya memutuskan untuk melakukan semua pekerjaan rumah tanpa pembantu, termasuk urusan mengasuh si kecil. Jadwal pekerjaan tidak bisa ditetapkan lagi karena setiap hari selalu berbeda. Sebagian jadwal pekerjaan saya sangat tergantung dengan jadwal si kecil, di samping tentu saja ada pekerjaan yang mau tidak mau harus selesai tanpa dipengaruhi jadwal adik, salah satunya adalah saya harus selesai masak untuk 3 kali makan di pagi hari sebelum suami saya berangkat ke kantor.
Ternyata memang menjadi ibu rumah tangga gampang-gampang susah. Hari-hari awal menjalani profesi sebagai ibu rumah tangga saya sempat kelabakan dengan segudang pekerjaan yang ada. Namun, karena sejak awal saya sudah bertekad untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik dan benar(begitu istilah suami saya) sayapun harus berusaha keras dan belajar untuk bisa mewujudkan gambaran ideal ibu rumah tangga yang saya inginkan. Di satu sisi saya berusaha mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga dengan perfek, mengasuh anak dengan baik, di sisi lain rutinitas semasa belum menikah dulu tetap ingin saya jalankan. Ternyata pekerjaan di rumah memang tidak ada habisnya, pun ketika malam sudah larut rasanya ada saja pekerjaan yang belum selesai. Satu pekerjaan belum selesai mendadak adek rewel minta ditemani bermain hingga terpaksa pekerjaan ditinggalkan demi adek.
Hingga suatu hari saya benar-benar jenuh dengan pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk tersebut dan merasa down dengan ketidakberhasilan saya menjaga rutinitas dan target seperti dulu. Saat itu saya jadi teringat pembicaraan di masa lalu bersama teman saya, ketika sudah menikah memang bentuk ibadah itu akan berbeda. Dan ketika saya curhat tentang hal itu dengan suami, saya justru diberikan motivasi dan kata-kata yang menenangkan. Memasak dengan ikhlas untuk keluarga pahalanya sama dengan pahala berhaji. Terjaga dengan tangis bayi dan mengganti popoknya di malam hari setara dengan salat tahajud. Seorang wanita yang tidak dapat tidur pada waktu malam karena menyusui anaknya, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan ia akan diberi pahala 12 tahun ibadah. Masih banyak lagi pekerjaan di rumah yang jika dimaknai adalah ibadah yang nilainya besar. Ibadah tak hanya target salat tahajud, selesai 1 juz setiap hari, ibadah salat sunnah rawatib, puasa sunnah, dan lainnya. Jika seorang ibu rumah tangga menjalani semuanya dengan ikhlas semuanya itu merupakan ibadah yang sangat bernilai tinggi. Sejak saat itu saya pun selalu tersenyum dan tak pernah down lagi karena masalah ini.
Selama ini kadang kita sulit sekali untuk memaknai setiap aktifitas yang dilakukan sebagai bentuk ibadah. Padahal seharusnya kita bisa memanfaatkan setiap detik nafas dan setiap langkah kehidupan sebagai ibadah karena memang tugas kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah. Bagi saya saat ini, seorang ibu rumah tangga, rutinitas pekerjaan di rumah dan mengasuh anak adalah hal yang harus berusaha saya maknai sebagai ibadah saya. Jikalau saya sekarang tidak pernah keluar rumah tanpa didampingi suami atau ijin suami, asalkan itu adalah untuk mendapatkan ridho suami, bagi saya adalah ibadah. [awalnya memang bete juga karena dulu terbiasa sering keluar rumah untuk berbagai macam kegiatan bersama teman-teman, tapi saya lalu teringat kata-kata indah dari Fatimah Az Zahra bahwa hal yang paling baik bagi seorang wanita yang sudah menikah adalah tidak melihat dan tidak dilihat oleh lelaki lain selain suaminya :) ]. Jika bagi saya pekerjaan rumah tangga adalah ibadah, bagi teman-temanpun segala sesuatu bisa juga menjadi ibadah. Hanya terkadang karena sudah merupakan rutinitas kita jadi lupa bahwa ini adalah ladang ibadah kita dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan tersebut sebagai suatu kewajiban dan bukan ibadah yang menyenangkan. Suatu saat kejenuhan dan kepenatan akan kita rasakan, tak hanya yang tinggal di rumah, yang bekerja di kantor pun akan merasakan yang sama [pengalaman pribadi waktu masih bekerja dulu]. Mungkin saat kejenuhan itu melanda kita dan kita berusaha memaknai bahwa semua yang kita kerjakan, pun hal yang sangat sepele sekalipun, adalah ibadah kita akan kembali bersemangat lagi. Semoga…
Madiun, 25 Januari 2008
January 29th, 2008 at 4:10 am
Thanks Sih, atas pencerahannya…
aku seneng moco tulisanmu :)
January 29th, 2008 at 8:39 am
matur suwun mbak viving