“Tuhan, inilah proposal hidupku”
Membaca judul di atas pasti tahu kan kalau cuplikan kalimat tersebut adalah sebuah judul buku yang ditulis oleh inspirator sukses mulia, Bpk Jamil Azzaini. Kemarin ummi mengikuti workshop beliau bersama mbak-mbak yg bantu di Zalfa. Acaranya diadakan oleh yayasan Yatim Mandiri, kebetulan mas kenal sama konsultan ZIS-nya dan buat donatur ada harga khusus, jadilah mas beli 4 tiket sekaligus buat ummi, mas, sama dua mbak yg bantu ummi di toko. Yach, sekali-kali mbak-mbak juga mesti diupdate dan diberi inspirasi juga kan biar terus berkembang dan gak selamanya jaga toko aja, siapa tahu bisa wirausaha sendiri nantinya, demikian harapan kami sejak dulu.
Acaranya berlangsung seru, tapi karena ummi lagi gak mood jadinya merasa gak bisa optimal menyerap workshopnya. Tapi, secara garis besar isi workshopnya sama dengan workshop motivasi yang pernah diikuti waktu di kampus dulu. Memang hidup harus memiliki proposal sebagai “hiu kecil” kehidupan kita. Beberapa motivator ada yang menyebutnya “peta hidup” juga. Menurut ummi sama saja isinya, berisi prestasi-prestasi apa yang ingin diraih dan langkah-langkah apa yang akan ditempuh.
Selama workshop ummi malah tertarik dengan kisah hidup Bpk Jamil ini. Semasa kecil hidup miskin dan menderita, tapi alhamdulillah memiliki keluarga yang support untuk maju sehingga beliau bisa menjadi sukses. Nasehat-nasehat Bapak beliau semasa kecil menjadi cambuk bagi beliau untuk terus maju. Nasehat itu di antaranya, cerita tentang kerang. Ada seekor kerang yang terkena pasir dan ia menangis, mengeluh sakit luar biasa pada ibunya. Ibunya menguatkan dia bahwa dia harus bersabar dengan pasir itu karena pasir itu adalah ujian. Hingga akhirnya saat panen kerang tiba, kerang2 yang tidak pernah kemasukan pasir dijual di pinggir jalan dengan harga murah dan kerang2 yg selama ini kemasukan pasir, dengan merasakan sakit yg luar biasa, sedikit demi sedikit pasir yang masuk ke tubuhnya dengan dibungkus cairan dari air matanya berubah menjadi mutiara dan berharga tinggi. Hidup adalah pilihan, ingin menjadi kerang biasa atau kerang istimewa. Jika ingin menjadi kerang istimewa maka harus bersabar dengan ujian yang ada. Nasehat itu beliau kenang dan ketika ujian demi ujian datang, beliau bertekad menjadi kerang istimewa.
Ummi, jadi berpikir bahwa kebanyakan orang yang sukses, pernah merasakan kehidupan yang pahit dan penuh perjuangan di masa kecilnya. Mungkin, inilah yang membentuk pribadi yang unggul dan tahan banting. Ummi pernah membaca kisah Bpk Bibit Samad Riyanto juga mengalami masa kecil yang penuh perjuangan. Beliau sangat berbakti pada orang tuanya, setiap pagi beliau membawa gerobak berisi mesin jahit untuk keperluan bekerja orang tuanya ke pasar dengan berjalan kaki, menyiapkan semuanya dan baru berangkat sekolah, juga dengan berjalan kaki beberapa kilo(kisah Bpk Jamil juga semasa SMA bersepeda 46km pulang pergi). Sepulang sekolah Bpk Bibit masih berusaha berjualan untuk membiayai keperluan sekolahnya. Ibu mertuaku juga bercerita bahwa orang jaman dulu sudah biasa bersepeda berkilo-kilo, ibu juga biasa bersepeda Blitar-Kediri. Bapakku juga dulu sewaktu masih baru diangkat jadi guru di “gunung” bersepda dari rumah ke Jogorogo yg jaraknya beberpaa kilo juga setiap hari. Hmm, subhanallah ya perjuangan orang jaman dahulu.
Saat ini anak-anak banyak dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas. Ada cerita anak yang ngambek gk mau sekolah minta dibelikan sepeda motor. Sebenarnya orang tuanya punya sepeda motor tapi gak ngejreng dan bagus, dianya ngambek minta yg baru dan bagus buat sekolah. Ada cerita anak yang cemberut dan gak mau sekolah karena minta dibelikan Hp. Saat ini anak SD sudah biasa memegang HP, padahal dulu waktu ummi SMA hampir gk ada yg punya HP dan HP adalah barang yang wah. Sepeda motor juga sudah banyak dipakai anak sekolah setingkat SMP. Untuk urusan pergi ke sekolah sdh banyak angkutan umum dan mobil pengangkut bulanan jadinya jarang yang jalan kaki atau naik sepeda.
Untuk urusan keuangan juga begitu. Orang tua mati-matian mencari uang untuk keperluan sekolah padahal seharusnya untuk usia SMA anak sudah bisa diajari untuk mandiri berwirausaha. Tapi lagi-lagi orang tua memiliki alasan bahwa anaknya sudah capek sekolah, dengan beban pelajaran yang tinggi, ekstrakurikuler yang melelahkan, belum lagi tugas-tugas yang menumpuk. Kasihan kan di rumah… Iya juga ya, tapi ummi ingin adek nanti sudah bisa berwirausaha sejak kecil ah… dan kalau SMA sudah harus memiliki bisnis sendiri(ini termasuk proposal ya…catettttt …hhhihiiii). Adikku yang masih SMA sekarang juga sudah ummi ajak bisnis kecil-kecilan, bisnis pulsa ke teman-temannya. Hasilnya alhamdulillah juga, hasilnya bisa ditabung, bisa buat beli-beli barang yang diinginkannya seperti jam tangan dan sekarang lagi menabung buat beli sepeda. Paling nggak dia tahu bahwa uang nggak datang dengan sendirinya, dan merasakan susahnya mencari uang walaupun masih dapat jatah juga dari orang tua dan nggak selalu minta and mengandalkan bapak ibu kalau pengen sesuatu. Selain itu dia belajar mengelola uang, mengelola piutang(kalau ada yg nunggak blm bayar), melatih kejujuran, dll.
Kembali ke workshop tadi, ada beebrapa langkah untuk menyusun proposal hidup yaitu:
- Sadarilah bahwa kita spesial, di dunia ini tak ada yg sama dengan kita walaupun wajah boleh sama
- tetapkan prestasi-prestasi yang ingin diraih
- jadilah expert di suatu bidang
- sempurnakan langkah kita
- sempurnakan lingkungan kita, milikilah sebuah kelompok kecil yang saling menyupport dan terdiri dari beberapa keahlian yang berbeda
Nah, yuk mulai menyusun proposal hidup kita agar hidup menjadi lebih terarah, agar hidup menjadi lebih bersemangat, agar tak lagi ada kata jenuh melihat hari silih berganti dengan rutinitas yang sama karena kita termotivasi untuk meraih prestasi-prestasi yang unggul, jadilah orang yang dibanggakan…
December 20th, 2009 at 8:38 pm
[…] Read original post at http://www.diary-kenzie.com/?p=63 […]