Penderitaan Bukanlah Kelemahan Melainkan Kekuatan

July 15th, 2010

Lagi sensitif dan bawaannya melow aja, e menemukan artikel ini, subhanalloh bagus banget ya….semangat lagi deh…

 

 

Penderitaan Bukanlah Kelemahan Melainkan Kekuatan*

By: agussyafii

Setiap kali kita mengalami peristiwa yang membuat kita bersedih atau menderita seringkali kita menutupinya atau menekan perasaan kita agar tidak terlihat lemah atau takut dianggap sebagai orang yang lemah iman sehingga bila ditanya ‘apa kabar? kemudian kita menjawab, ‘baik..!’ Tanpa kita sadari kita menolak penderitaan.

Dilingkungan kita berada bila terjadi peristiwa duka cita, kehilangan orang yang kita cintai biasanya ada ungkapan, ’sudahlah, jangan menangis. Ikhlaskan saja kepergiannya.’ atau ada juga yang mengatakan, ‘kayak bukan orang beriman saja, begitu kok menangis.’ Itulah sebabnya kita menekan perasaan kita, menekan emosi kita, tidak menunjukkan menangis di depan umum agar kita tidak dianggap sebagai orang yang lemah bahkan dianggap sebagai orang yang kufur.

Padahal bila kita memahami lebih dalam setiap duka cita dan penderitaan yang kita alami sesungguhnya banyak manfaatnya dalam hidup kita. Penderitaan dan duka cita yang sering kita alami sesungguhnya bukan kelemahan melainkan sebuah kekuatan yang ada di dalam diri kita. Ada beberapa manfaat di dalam penderitaan yang kita rasakan sebagai kekuatan.

Pertama, Pengalaman duka cita atau yang kita rasakan sebagai menderitaan justru mengajarkan kita pada limpahan kasih sayang Allah Subhanahu Wa ta’ala agar kita semakin dekat dan taat kepadaNya, dengan demikian limpahan kasih sayang Allah akan memenuhi hati kita dan hati kita memancarkan kasih sayangNya untuk semua orang yang disekeliling kita.

Kedua, penderitaan yang kita rasakan menjadikan kebahagiaan kita menjadi sempurna. Kebahagiaan sejati pada dasarnya adalah mengalami kegembiraan dan penderitaan secara seimbang. Hidup menjadi dinamis ketika semuanya datang silih berganti antara kebahagiaan dan penderitaan.

Ketiga, penderitaan membuat kita semakin peka terhadap penderitaan orang lain. Kita menjadi memiliki empati dan menghormati orang lain sebagai hamba Allah yang sama-sama dimuliakan. Kita tidak berani menghina, melecehkan, atau mencemooh orang lain karena kita merasakan betapa pahitnya sebuah penderitaan.

Keempat, ketika hati kita remuk redam, ingin menangis menangislah sesungguhnya apa yang kita rasakan sakitnya, dengan menangis merupakan salah satu cara untuk membersihkan hati kita. Menangislah kepada Allah agar diberikan kesabaran dalam menjalani hidup ini sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

‘Apa yang disisimu akan lenyap dan apa yang disisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. an- Nahl : 96).

* Materi On Air Radio Bahana 101.8 FM jakarta Rabu Jam 6 s.d 7 malam ini.

Wassalam,
agussyafii


Kenzie dan rasa kangen

July 4th, 2010

Apa kabar Kenzie(keluarga besar kami susah melafalkannya, akhirnya panggilannya jadi Arya, padahal nama Kenzie tuh ummi dan abi cari sampai begadang berdua berhari-hari, hihihi, maklum anak pertama gitu). Dia sudah 3 tahun lebih loh dan alhamdulillah banyak sekali perkembangannya. Ummi tak pernah mendikte dan mengajarinya huruf ataupun angka, tapi alhamdulillah dengan bermain dia sudah mengenali beberapa di antaranya. Untuk doa dan hafalan surat pendek tidak ada target khusus atau murojaah karena semuanya dilakukan dengan bermain dan bernyanyi, ternyata lebih efektif dan melekat di kepalanya. Jadinya beberapa doa sederhana dah dihafalkan, dan yang penting pengulangan dan pengulangan saat akan melakukan aktifitas.

Dua minggu yang lalu untuk pertama kalinya saya jauh dari Kenzie. Selama ini dia begitu dekat dengan saya, alhamdulilah, karena memang sejak bayi saya asuh sendiri. Apalagi dengan kehadiran adiknya, Kinza, manjanya tambah gak ketulungan. Semua aktifitas hanya mau dengan saya. Saya masih ingat ketika akan berangkat ke RSB untuk melahirkan KInza, perut rasanya dah mules banget semalaman, Kenzie maunya mandi dengan saya, tak mau dengan Abi atau utinya, akhirnya dengan menahan mules saya mandikan juga.

Waktu adik saya berkunjung ke madiun e tiba-tiba Kenzie mendadak rewel ingin ikut buliknya yang akan pulang ke Kediri dan itulah pertama kalinya ia jauh dari saya(ehhmm pengecualian saat ia masih bayi dan saya masih harus bolak-balik ke Bandung untuk menyelesaikan kuliah ya). Ada rasa kangen dan kesepian dalam hari-hari saya. Awalnya saya takut dia rewel tapi ternyata semuanya bejalan lancar di Kediri, malahan ummi yang rewel karena kangen Kenzie, begitu goda mas, hehehe.

Liburan sekolah yang panjang, saya dan mas menyusul Kenzie di Kediri. Seperti biasa saya tinggal lama Kediri, tak cukup seminggu bahkan kadang sampai berminggu-minggu. Karena mas harus kerja biasanya kami ditinggal dan akan datang hari Rabu dan Jumat. Dulu seingat ummi Kenzie tak begitu rewel saat ditinggal tapi sekarang ada aja alasan untuk menahan mas pergi, apakah itu yang dinamakan kangen. Sepertinya iya, Kenzie sudah merasakan kangen.

Seperti kemarin mas ingin menyenangkan Kenzie, akhirnya kami bertiga pergi jalan-jalan dan berbelanja makanan untuknya. Setelah berputar-putar karena kenzie ingin melihat kereta api, akhirnya kami bertiga duduk-duduk di stasiun. Saat itu mas rencananya akan pergi, tapi Kenzie begitu rewel akhirnya ummi bilang sepertinya adek masih kangen sama mas, akhirnya kepergian mas ditunda, hohoho [padahal yang kangen umminya ya, hihihi]. Akhirnya kami bertiga bercengkerama di stasiun, bercanda, bermain tebak-tebakan bentuk benda sambil melihat kebun pepaya yang terhampar luas, subhanalloh, indah ya.

Saat duduk santai entah mengapa akhirnya saya dan mas jadi bernostalgia tentang kehidupan awal pernikahan kami, benar-benar penuh perjuangan. Saya sungguh tidak pernah membayangkan, setelah menikah, resign dari pekerjaan, hidup berjauhan dari suami, menjalani hari-hari kehamilan saya dengan kuliah dan mengajar di lab komputer hingga malam, merasakan capek, lelah sendirian di sebuah kota yang jarak perjalanannya 10 jam dari suami. Hingga hari Sabtu adalah hari yang saya nantikan dan itupun kadang mas tidak bisa datang setiap minggu, dan kalaupun datang hari Minggunya saya harus berurai air mata melepas kepergiannya di stasiun, hua kayak cerita sinetron aja nih. Tapi itu adalah masa lalu, kami sudah berkumpul kembali, dan ia jadi kenangan yang indah dalam hati kami. [semoga Allah mempersatukan kami di dunia dan akhirat, amiin]

Balik lagi ke Kenzie, mungkin ummi yang harus menjelaskan bahwa itu namanya rasa kangen karena dia belum mengenal kata itu. Rasa kangen itu hal yang wajar dan alami tatkala lama kita tidak bertemu dengan orang yang kita sayangi. Maklumlah di rumah Kenzie dekat dengan abinya bahkan sering tidur di pangkuannya[ummi dah nggak kuat lagi lama-lama mangku sama gendong, lah dah besar je]. Setiap mas hendak pulang dia sudah bertengger di atas sepeda motor sambil memohon untuk ikut, kalau sudah begini kami yang harus sabar membujuknya dengan berbagai cara. Biasanya mas akan bilang kalau Abi nitip Kenzie untuk menjaga ummi sama adiknya. Saat itu sudah berhasilpun setiap hari ia akan menanyakan mas akan pulang atau tidak. Tapi dengan bermain bersama kakak dan teman-temannya di sini ia akan segera melupakan rasa kangennya itu.

Ummi pernah merasakan rasa kangen, kangen banget, sampai berurai air mata selain pada mas. Kangen itu kepada teman-teman dan lingkungan ummi di Bandung dulu. Sungguh ummi sangat bersyukur mengenal mereka, yang telah menorehkan banyak kebaikan dan perubahan pada ummi hingga lebih mengenal indahnya Islam. Mereka yang ucapannya adalah kebaikan dan doa, sikapnya adalah ketulusan sebagai saudara dalam iman dan islam. Saat sakit ada doa terucap, saat sedih ada genggaman tangan dan kekuatan. Kami saling menyayangi, mengingatkan akan kekhilafan, tidak saling menyakiti. Setelah menikah dan pergi meninggalkan mereka, mas-lah yang bisa menggantikan semua teman-teman tersayang ummi. Mungkinkah itu namanya jodoh, kata mas jika kita bertemu jodoh kita, seribu teman kita seolah-olah terwakili oleh satu orang saja yaitu jodoh kita.
Ada kalanya ummi juga merasa kangen berat mungkin seperti yang dialami Kenzie dan hanya ini yang bisa ummi doakan semoga Dia selalu menjaga matanya, hati, pendengaran, penglihatan, jiwa, raga, tubuh, perasaan, dan semua yang ada padanya untuk selalu mengingat Dia dan mengingatku, dan semoga Dia membantuku untuk menjaga kehormatan, mata, hati, penglihatan, pendengaran dan semua yang ada padaku untuknya, semua karena Allah semata.


Menunggu seorang lelaki

July 2nd, 2010

Jarum jam terus berdetik, berputar melewati angka demi angka 1,2,3 dan seterusnya. Lampu-lampu telah dimatikan dan keheningan malam adalah teman saya kini. Tapi jari jemari terus menari di atas keyboard Toshiba merah hadiah dari lelaki yang saya nanti. Ya, saya sedang menunggu seorang lelaki.

Lelaki ini yang beberapa tahun lalu datang memakai jas dan peci hitam,  membawa beberapa keranjang hadiah, dan bersamanya ada kebahagiaan tatkala janji yang berat telah diucapkan. Janji itu setara janji Nabi pada Tuhannya dan janji Bani Israel kepada Allah. Dan janji itu telah mengubah jalan hidup kami, saya terutama, karena dengannya segala karir dan kehidupan akan saya tinggalkan dan menggantinya dengan kehidupan baru yang saya buta terhadapnya tetapi tetap yakin bahwa bersamanya segala kesulitan dan duka lara akan sirna.

Saya masih ingat hari itu ketika saya harus meninggalkan pekerjaan dan orang-orang yang selama ini menemani, mereka tanpa saya sadari telah mengisi sebagian hari dan hati saya. Telah banyak kenangan terukir dan memori telah terpenuhi dengan guratan kenangan. Tidak mudah untuk meninggalkan semua ini lalu sebuah sms saya kirimkan kepadanya, lelaki yang saya cintai, tentang kegalauan dan gundah hati. Dan sms darinya datang, yang kata-katanya masih saya ingat hingga kini, saya terharu dan bersyukur karena ialah penyejuk hati.

Telah banyak hari kami lalui, kadang pertengkaran terjadi, suka dan duka, pahit dan manis dan itulah warna kehidupan. Mungkin saya telah terlalu terikat hati kepadanya hingga takut terluka dan kehilangan. Padahal ajal begitu dekat mengintai, saya dulu atau dia dulu, dan berbagai permasalahan lain yang akan menguji kami, kami akan bertahan atau terpuruk. Siapa yang tahu akan qada dan qadar, siapa yang tahu akan tulisan di Lauhul mahfudz tentang kisah kami dan kami hanya akan bisa berdoa, berusaha, dan tawakal.

Saya masih disini, menunggu seorang lelaki datang, beberapa jam saya menunggu tapi dia belum juga datang, galau dan gundah. Menunggu adalah pekerjaan paling membosankan tapi ada doa untuknya, agar terjaga mata, telinga, hati, badan, perasaan, semuanya yg ada padanya untuk selalu mengingat Allah dan tak lupa mengingat saya juga, yang setia menunggunya.


Resep mpasi awal(pure) ala Kinza

July 2nd, 2010

Apa kabar Kinza? Sekarang Kinza dah 6 bulan, alhamdulillah, sejak lahir tubuhnya memang mungil tapi gerakannya gesit sekali, :D . Sejak usia 3 bulan dah bisa tengkurap sendiri dan sekarang waktunya memperkenalkan mpasi untuknya. Mpasi pertama Kenzie dulu adalah pisang susu, waktu itu ummi sdg berpuasa kata mas kayaknya Kenzie sudah waktunya diberikan mpasi agar asupan makanannya tak hanya mengandalkan asi apalagi ummi sedang berpuasa. Ummi sendiko dawuh aja walaupun waktu itu belum genap 6 bulan usianya.

Saat ini Kinza sepertinya sudah bisa dikenalkan dengan makanan pendamping karena dia sangat tertarik dengan piring dan makanan . Untuk Kinza mas nurut aja apa kata ummi, dikenalkan sekarang boleh nanti juga boleh. Akhirnya ummi memutuskan untuk mulai mengenalkan makanan pada Kinza sejak usianya 5,5 bulan dan itu bukan makanan utama loh, cuma perkenalan aja. Sayuran plihan ummi pertama adalah wortel [hoho sayur kebangsaan keluarga favorit ummi dan Kenzie, kalau mas ikut aja sama kami, love my husband very much deh hihihi], kentang, lalu berlanjut ke buah.

Kinza suka banget ternyata dengan mpasi awalnya dan hampir tiap hari selalu ada makanan baru yang dikenalkan ummi, apa aja itu, hayuk kita intip resep mpasi awal(pure) ala Kinza…[ceile..bahasanya kayak chef2 di tv yak..]

- Pure wortel
wortel dikukus, kemudian diblender/disaring, dicampur dengan asi/air

- Pure kentang
kentang dikukus, kemudian diblender/disaring, dicampur dengan asi/air

- Pure tomat
tomat direbus sampai kulitnya mengelupas, kemudian diblender/disaring, tambahkan sedikit gula[rasanya asem  banget sih kalau gk dikasih gula, tapi duuuiikiiit aja yak]

- Pure Pir
pir dikukus(agar teksturnya lembut) lalu diblender/disaring, tambahkan sedikit air

- Pure Apel (caranya sama dgn pir)

- Pure Waluh(labu kuning) (caranya juga sama)

- Pisang
pisang dikerok mengunakan sendok, diambil bagian luarnya aja ya, paling bagus katanya pisang kepok

-Jus Jambu

-Jus Alpukat

-Pure kacang hijau

hmm apalagi ya, rencananya mau buat pure jagung, brokoli, masih banyak yg belum dicoba Kinza, heheh

oh iya alhamdulillah, surprise banget nih Kinza dah bisa minum dengan gelas dan sedotan, [thanks you very much my husband yg udah ngajarin dengan kasih sayang, hihihi] diajari sebentar dah langsung bisa jadinya gak bingung lagi kalu ngajak Kinza jalan2 tinggal bawa sedotan aja, hhehehe

Itulah cerita Kinza, buah hati kedua kami. Terima kasih ya Alloh atas semua karunia-Mu ini, masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang pandai bersyukur kepada-Mu. Amiin

kediri,02/07/2010


Matahari yang tak sama

June 22nd, 2010

Malam ini langit begitu cerah, bintang gemerlap begitu indah, bulan bersinar begitu menawan. Inilah kami, aku dan dua putra kembarku, Nakula dan Sadewa, bertiga mengisi waktu, merajut tawa, merangkai canda yang aku rasakan bagai setitik air yang menghapus duka. Tak ada duka itu di wajahku, karena tak ingin ada tanya dari dua kembarku. Hanya senyuman dan kata-kata manis penuh canda yang kuungkapkan agar mereka tersenyum dan melewati hari-hari selanjutnya dengan kebahagiaan, tidak perlu sepertiku.

Matahari pagi yang datang esok tetap sama, indah dan menawan, tapi bagiku matahari itu takkan sama lagi seperti dulu. Langit malam ini ataupun esok, akan tetap sama, cerah dan berawan, tapi bagiku langit ini tak sama lagi. Angin yang berhembus, burung yang berkicau, bunga berwarna-warni di taman yang bermekaran, semuanya tetap indah dan menawan, tapi tidak bagiku, semuanya tak sama lagi dan tak indah lagi.

Dulu aku merasa wanita paling bahagia di dunia, dengan suami paling baik yang pernah kutemui, dan anak-anak sehat penuh ceria bagai permata. Tak ada rumah mewah yang kami diami, tak ada kendaraan mengkilap yang kami punyai, tak ada harta melimpah yang kami miliki. Hanyalah rumah mungil, sebuah sepeda motor yang penuh debu, dan harta pasang surut yang sering hadir saat kami membutuhkan tapi begitu cepat pergi juga saat kami tak banyak kebutuhan. Hingga hari itu tiba disertai mendung dan petir di dalam hati, hancur rasanya, remuk redam jiwaku, dan aku tak sanggup mengingatnya. Kebahagiaan itu kurasakan sudah hilang dan tak tahu bagaimana lagi akan merajutnya.

“Bunda, kenapa ayah belum pulang, lama sekali perginya, “tanya Nakula

“Benar Kak, ayah tak pernah pergi selama ini, selalu menelepon adik jika pergi lama..”, Sadewa menimpali

“Iya Dik, Ayah kemana ya…”

Aku tersenyum getir, mereka sering bertanya tentang segala sesuatu. Namun, mungkin saat ini jawaban itu tak perlu karena kulihat keduanya sudah melupakan pertanyaan itu dan menggantinya dengan canda berdua lagi. Jawaban itu mungkin memang tak perlu karena suatu hari mereka akan mengerti mengapa terkadang bundanya menangis dalam sepi atau terdiam begitu lama dalam sunyi.

Kenapa begitu sakit dan dukanya aku, aku sendiri tak mengerti, sedangkan aku mengerti ajal itu begitu dekat dan tak ada yang tahu kapan dan siapa yang akan direnggutnya. Masihkah harus mengatakan tak siap padahal hari-hari yang diberikan-Nya selama ini bersamanya adalah masa-masa untuk menguatkan diri. Namun, inilah aku, wanita yang lemah dan penuh perasaan, merasa terluka dan berduka. Tapi, aku tak ingin luka dan duka melemahkan jiwa, tapi aku tak memungkiri luka dan duka ini teramat sangat menghancurkan hati, mungkin hati ini akan utuh kembali, tetapi suatu saat, saat keheningan dan kesunyian adalah teman setiaku, hati ini kembali hancur, air mata ini kembali mengalir deras, dan hanya Dia tempatku mengadu.

Ya Rabb, berilah kekuatan pada hamba-Mu ini agar duka dan luka tak lagi menghiasi hariku. Tapi bagaimanakah ia sedangkan kebahagiaan itu seakan sirna dan terbang melayang entah kemana, hingga suara itu kudengar,

“Dik, kalau melihat yang indah-indah baca apa hayo .., tanya Nakula

“Apa ya…apa ya Kak…,”jawab Sadewa bingung

“Aduh kamu lupa ya, itu loh kan ada nyanyian di sekolah kita…”

“Aaa…aku tahu…”

“Subhanalloh, Maha Suci Alloh…”, mereka serempak menjawabnya sambil tersenyum.

Aku ikut tersenyum, inilah kebahagiaanku kini, bersama dua putra kembarku, pelipur lara dan duka dalam hati. Ya Rabb jadikanlah mereka anak-anak yang soleh, harta tersimpan yang bernilai tiada tara.

“Kalo doa untuk orang tua..”, tanyaku menyelidik

“Kalau itu Kakak hapal Bunda, kata Ayah dulu jangan lupakan doa ini selesai salat…”

“Iya, adik juga hapal Bunda..”

“Kalau sudah hapal, coba sekarang bagaimana doanya..,”tanyaku lagi sambil memeluk mereka berdua dengan sayang.

Keduanya melafalkan doa itu dengan baik beserta artinya yang membuatku terharu. Ya Allah aku sekarang telah menemukan kebahagiaan itu lagi, pada dua putra kembarku, pada malam-malamku bersama-Mu, pada lantunan ayat-ayat suci-Mu yang kubaca siang dan malam, dan pada surat demi surat yang berusaha kuhafalkan sebagai pengisi jiwaku.

- cerpen ini ditulis di Kediri, 23/06/2010 selesai pukul 3:30 saat menemani putra keduaku yang terbangun dini hari -